REUNI 4.0, SEBUAH PERTUNJUKAN KASTA SOSIAL DAN GENGSI



"Eh ... lu dateng gak ke reuni SMP/SMA kita?"

Pertanyaan di atas sempat terlontar beberapa tahun yang lalu tepat posisi saya waktu itu sebagai seorang pejuang curriculum vitae. Jadi enaknya pertanyaan tersebut dijawab apa ? ikut atau tidak ?

Beberapa hari yang lalu sempat membaca sebuah postingan menarik di akun instagram @awreceh.id yang menyinggung tentang reuni. Jadi sebenarnya apa itu reuni ?

REUNI
atau dalam bahasa inggrisnya REUNION yang berarti re (kembali) union (persatuan). Maka reuni dapat dimaknai sebagai momen pertemuan atau penyatuan kembali dengan rekan (sekolah/bekerja/keluarga) yang sudah lama terpisah. 

Tujuan reuni itu sendiri yaitu merekatkan kembali hubungan pertemanan yang dulu sudah lama terjalin. Reuni juga bisa diartikan sebagai wadah bertukar pikiran dan cerita mengenai perubahan-perubahan yang terjadi semasa berpisah dalam rentang waktu yang lama. Cerita yang disuguhkan biasanya merupakan kenangan-kenangan yang tidak terlupakan semasa kecil atau semasa bersekolah dulu. Ada kenangan sedih hingga kenangan senang yang begitu sulit untuk dilupakan dan rasanya ingin sekali terulang kembali. 

Reuni biasanya diadakan dengan cara makan bersama di sebuah tempat besar. Jika reuni yang diadakan oleh angkatan tua, biasanya bisa menyewa 1 resto besar sambil disuguhi dengan live music/karaoke. Tapi bagaimana dengan era 4.0 ?? 

Sebelum reuni diadakan, beberapa dari kita hanya bisa berkomunikasi via grup chat dan juga melihat foto/video rekan kita melalui akun sosial media. JELAS ada perubahan yang signifikan terlihat dari foto-foto rekan kita. Mungkin yang dulunya pendiam, sekarang bisa jadi super talented, yang dulu tukang bikin masalah, malah jadi seorang pilot, yang justru tadinya pintar sekarang terlihat biasa-biasa saja dan masih banyak lagi keadaan yang kita lihat melalui akun sosial media rekan kita. Tapi bagaimana jika reuni diadakan dan bertemu langsung dengan rekan kita ??

"Eh apakabar berubah banget sekarang !!"
"Ihhh sekarang kerja di mana ?"
"Ehh udah nikah kan ya ?"

"Reuni di era modern cenderung dimaknai sebagai ajang pertunjukan kasta dan strata sosial dengan dibubuhi gengsi di setiap perubahan yang dialami setiap individunya, baik perubahan secara fisik maupun karir dan finansial"

Pembicaraan dan pertanyaan mengenai karir dan kehidupan memang secara spontan terlontar karena faktor sudah terlalu lamanya berpisah dan sekedar menanyakan kabar semata. Namun bagaimana jika obrolan reuni diisi dengan hal yang sensitif untuk didengar oleh beberapa orang? Misal seperti yang dicontohkan pada postingan instagam @awreceh.id, asn/abdi negara/ supervisor/manager yang membeberkan penghasilannya yang begitu mudah untuk dikatakan, 12-20 juta per bulan. Bagaimana dengan nasib yang penghasilannya pas-pasan ? Bagaimana dengan yang berdagang ? Bagaimana dengan yang belum mendapatkan pekerjaan sementara sambilannya adalah ojek online yang terkadang tidak sampai tupo (tutup poin) ? 

Pembicaraan mengenai besaran gaji selebihnya pernah dibahas pada postingan GAJI, PUBLIKASI ATAU PRIVASI ? Namun terlihat kurang etis apabila dijadikan topik bahasan ketika suasana sedang reuni. Belum lagi obrolannya mengenai rencana ke depan dengan pengahasilan sebesar itu ? Di tambah lagi yang terlihat dalam situasi reuni mayoritas tidak berubah. Masih ada yang berkelompok dengan rekannya yang itu-itu saja dan enggan untuk berbaur. Lagi-lagi karena gengsi sosial. Akan berbeda situasinya ketika rekan yang dulunya terlihat kutu buku dan kini berubah sangat fantastis secara fisik dan finansial. Ada juga yang alasannya karena ada masa lalu di sana sehingga enggan untuk datang. Di samping itu pula, ketika reuni dilangsungkan, beberapa individu yang dulunya tidak populer seperti rekan lainnya seing mendapat perlakuan acuh dan obrolan tidak berlanjut lagi.  Lantas dampaknya ? beberapa yang merasa dirugikan atas obrolan yang terlalu tinggi tadi enggan untuk hadir pada acara reuni yang mana esensinya sendiri tidak terlalu terlihat. 

Memang, melihat rekan berada di posisi yang sudah memadai secara finansial bisa dijadikan motivasi untuk kita supaya terus berjuang lebih keras dan giat lagi. Namun setidaknya sebagai manusia yang berakal, mampu menempatkan posisi dan melihat keadaan ketika berbicara mengenai hal yang sifatnya sensitif. Selain itu bisa pula membedakan mana yang layak untuk dijadikan topik obrolan sesuai dengan tema reuni yang biasanya bersifat nonformal. 

Yang perlu diingat adalah hidup bersosial dan bermasyarakat tentu ada adabnya. Perubahan sosial memang kerap terjadi begitu juga dengan setiap sisi kehidupan seseorang. Kegiatan reuni esensinya menjadi wadah kebersamaan tanpa memandang bagaimana profesi dan posisi seseorang dengan karir serta jabatannya, melainkan memutar kembali momen-momen yang sulit terlupakan semasa di sekolah. Terlepas dari itu, saling berbagi hal yang positif akan jauh lebih memaknai arti reuni. 

Comments

Popular Posts