GAJI ? PUBLIKASI ATAU PRIVASI


"Eh udah kerja lagi ya ? enak gak di sana ? Gajinya berapa ?"
"Gede gak tunjangan sama bonusnya ?"
"Kok gaji gak naik-naik ya padahal kerja udah lama"
"Mmm gimana gak gede gajinya kalo kerjaannya ngejilat aja"
"Buat apa capek-capek kerja kalo gajinya lebih besar dia yang kerjanya gak ngapa-ngapain"

Kita sering mendapati suasana demikian baik oleh rekan kerja yang masih dalam satu lingkup kantor maupun yang sudah berbeda kantor. Tentu sangat mengganggu bukan ?

Menjadi seorang yang sudah bekerja paling tidak perlu untuk menanamkan sikap profesional apapun itu jabatan yang dimilikinya. Profesional di sini dimaksudkan bahwa usia bekerja dapat bermakna seseorang yang dewasa dan matang baik dari sisi fisik maupun mental. Dewasa juga mengajarkan kita bagaimana mengatur/memanage sisi kehidupan, termasuk finansial pribadi tanpa harus mengurusi apa yang menjadi ranah orang lain.   

Mungkin di lingkungan tempat kita bekerja sebagian masih umum untuk mempublikasikan besaran gaji yang diterima. Namun mari kita pikirkan bersama. Ketika bicara gaji, at least berurusan dengan uang dalam jumlah banyak yang mana kebanyakan berstandar pada UMR (upah minimum regional) yang setiap tahun biasanya mengalami kenaikan. Akan tetapi memang masih banyak perusahaan yang ternyata belum bisa memberikan upah/gaji sesuai dengan UMR karena ditentukan juga dengan lulusan pendidikan. 

"GAJI YANG KITA DAPAT MAYORITAS DITENTUKAN OLEH LULUSAN PENDIDIKAN TERAKHIR KITA"
Namun ... hal itu juga terkadang tidak berlaku bagi sebagian perusahaan. 
Ada yang MUNGKIN real melihat bagaimana kinerjanya selama beberapa bulan/tahun walaupun pendidikan terakhirnya sebatas SMP/SMA . Semua tergantung pada kebijakan perusahaan

Tapi yang menjadi masalah adalah ,

APAKAH MENJADI HAL YANG WAJAR ATAU TABU UNTUK DILAKUKAN KETIKA KITA MEMPUBLIKASIKAN BESARAN GAJI ?

Berangkat dari pengalaman pribadi dan pengalaman teman-teman, menurut saya mempublikasikan besaran gaji adalah hal yang kurang patut untuk dilakukan. 

MENGAPA DEMIKIAN ????

Gaji adalah sebuah rahasia yang cukup diri pribadi dan orang-orang tertentu saja yang bisa mengetahuinya. Menurut saya, gaji juga menjadi sebuah cerminan dan bentuk koreksi diri tentang bagaimana kita bekerja di sebuah perusahaan . 

Ingat Reward-Punishment
Kita bisa memaknai gaji sebagai reward ketika kita merasa semua pekerjaan sudah maksimal kita lakukan seperti kita selalu masuk kerja tepat waktu, mengerjakan pekerjaan dengan cekatan dan tepat waktu mengejar deadline. Biasanya reward juga berupa bonus dan tunjangan yang kita terima. 
Mungkin gaji juga bisa menjadi punishment ketika kita menerimanya dibawah tolak ukur yang ditentukan pada saat kontrak kerja, mungkin saja karena kita terlalu banyak izin tidak masuk, mungkin saja karena kinerja kita yang kurang maksimal dan alasan lain yang masih masuk akal. Sehingganya kita memiliki kesadaran untuk lebih giat lagi bekerja. 


Lantas, 
Siapa saja personal yang berhak mengetahui besaran gaji tersebut ? 

Yang pertama, tentu atasan perusahaan karena semua persetujuan termasuk pembagian gaji karyawan terletak pada keputusannya. 
Yang kedua, HRD/Personalia karena memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk memanjamen seluruh karyawan perusahaan. Melalui personalia biasanya kita juga bisa mengajukan keluhan mengenai penggajian yang tidak sesuai, misalnya kita merasa pekerjaan kita sudah dilakukan dengan maksimal tapi pendapatan yang kita terima tidak setara. Dalam hal ini mungkin pihak personalia bisa menjelaskannya lebih tepat.
Yang ketiga, Head Accounting karena seluruh arus kas berada pada kendalinya, termasuk menyisihkan keuangan untuk keperluan gaji karyawan atas izin personalia dan atasan.

Ketiga personal tersebut juga diharapkan memiliki profesionalisme yang tinggi dalam bekerja sesuai dengan koridornya dalam memanajemen karyawan di perusahaan. 

Mengapa rekan kerja sendiri tidak boleh mengetahuinya ? 
Berbicara soal gaji cenderung dapat menciptakan iklim atau suasana yang tidak kondusif dan gosip tidak menyenangkan. Bahkan cenderung merusak tim.

Saling mempublikasikan besaran gaji juga cenderung dianggap sebagai ajang pamer bahkan satu sisi ada yang merasa dikucilkan karena gajinya lebih kecil. Ada juga yang mengalami cemburu sosial karena merasa tidak terima bahwa ketika bekerja sudah lama namun gaji masih kecil dibandingkan karyawan yang baru masuk. 
Selain itu, potensi hutang piutang pun terjadi ketika kita tahu rekan kita memiliki gaji yang besar. Lagi-lagi tuntutan gaya hidup juga menjadi salah satu faktor mengapa gaji perlu dipublikasikan. Selain itu, rasa ingin tahu rekan kerja yang berlebihan tentang besaran gaji yang kita terima cenderung bisa menimbulkan rasa kompetitif yang tinggi pula dalam makna yang konotatif atau lebih tepatnya saling iri hati. 

Namun kembali lagi pada perspektif tiap personal. Semua tergantung bagaimana sudut pandang kita menanggapi hal tersebut. Apakah sebaiknya dipublikasi untuk  memberikan sedikit motivasi atau kah cukup menjadi privasi .  

Idealnya, slip gaji masing-masing karyawan diberikan secara personal baik manual atau melalui surel masing-masing agar tetap terjaga privasinya. Tugas kita sebagai karyawan adalah kembali percaya diri terhadap hasil yang diperoleh selama bekerja melalui besaran gaji tersebut. Ketika besaran gaji menunjukkan adanya peningkatan, maka patut bersyukur dan bekerja lebih giat lagi. Ketika sebaliknya terjadi, maka perlu adanya koreksi diri dan hal tersebut dijadikan sebagai motivasi kerja. Minimal, menamkan kesadaran atas hasil yang dicapai merupakan bentuk rasa syukur kita terhadap usaha yang kita lakukan pada saat bekerja sehingga persaingan yang sehat tetap terjalin di lingkungan karir. 

Menanyakan gaji kepada orang lain hanya akan membuang-buang waktu dan juga membuat kita menjadi pribadi yang kurang bersyukur.
Alih-alih mempublikasi gaji, lebih baik menjadikannya sebagai sebuah privasi.


Comments

Popular Posts