KORELASI
Begitu banyak hal yang menarik untuk dibahas dalam hidup ini, salah satunya yaitu tentang sebuah hubungan.
Hidup kita tentu terhubung satu sama lain, baik itu secara material maupun spiritual.
"Manusia adalah makhluk sosial, mereka tentu hidup berdampingan satu sama lain dan saling membutuhkan"
Sering sekali kita mendengar kalimat di atas. Satu dari sekian banyak dari kita tentu pernah menjalin suatu hubungan dengan orang lain dalam waktu yang tentu tidak sebentar yang pada akhirnya sama-sama meletakkan komitmen di dalamnya. Seringkali di pertengahan perjalanan terbesit beberapa pertanyaan seperti ....
"Apa aku pantas untuk dia ?"
"Apa aku bisa hidup dengan dia ?"
"Aku takut ... Karena kami masih sama-sama egois"
"Kami ini sama-sama keras lho"
dan masih banyak pertanyaan mengganggu lainnya yang sering diutarakan.
Pertanyaan tentang keraguan itu tentu wajar sering ada dalam benak kita, tapi alangkah baiknya kita coba maknai hal itu dari sisi yang lebih positif, seperti ....
"Oh mungkin ini yang namanya belajar mendewasakan satu sama lain"
Kalian percaya atau tidak bahwa semua yang ada dalam hidup ini pasti ada sebab akibatnya ? Misalnya ....
"Sebab kita ragu akibatnya kita takut terhadap apapun sebelum mencobanya."
dan kalian percaya atau tidak bahwa setiap tindakan yang kita lakukan akan ada timbal baliknya ?
Well, let's talk about correlation.
Korelasi secara umum dimaknai dengan hubungan timbal balik.
Secara keilmuan statistik, Jonathan Sarwono (2011) memaknai korelasi sebagai teknik analisis yang termasuk dalam salah satu teknik pengukuran asosiasi / hubungan (measures of association).
Ada pula yang memaknai korelasi sebagai hubungan sebab akibat.
Kali ini kita bukan bicara tentang keilmuan statistika melainkan tentang korelasi dalam hubungan kita sehari-hari dengan orang terdekat kita. Dengan orang yang kita sayangi, dengan orang yang begitu kita cintai.
Apa esensi dari mencintai dan menyayangi pasangan kita ?
Saya kira itu semua sulit untuk dijelaskan.
Terkadang dengan bahasa tubuh saja sudah cukup mewakilkan perasaan kita semua ke pasangan.
Apakah kalian percaya bahwa kita dan pasangan akan saling mempengaruhi satu sama lain suatu hari nanti ?
Di usia pernikahan yang masih tergolong muda, bukan berarti saya cepat menyimpulkan bahwa pernikahan saya adalah yang terbaik. Bukan ...
Mungkin tulisan ini adalah sedikit pengalaman untuk dibagikan ...
6 tahun menjalani hubungan dan hampir 2 tahun menjalani rumah tangga bersama, saya dan pasangan banyak belajar tentang bagaimana saling menghubungkan perasaan perasaan kami.
"Ibarat korsleting, kami mencoba menghubungkan kabel-kabel kehidupan agar kembali tetap bersinar"
Kami berdua sangat bertolak belakang. Saya terlahir dan terdidik dari keluarga yang disiplin dan lumayan "keras", sebaliknya dengan pasangan saya yang terlahir di keluarga yang begitu santai. Tidak heran saya memiliki watak yang cenderung perfeksionis, tegas, keras.
Justru sebaliknya dengan pasangan saya yang cuek, santai, terkadang keras kepala dan lebih banyak menyimak daripada bersuara.
Kami adalah variabel berbeda yang disatukan dengan korelasi waktu ...
"Waktu adalah bagian dari suatu proses pendewasaan"
Setelah kami memutuskan untuk hidup berumah tangga, banyak proses yang telah kami lalui, salah satunya adalah pembentukan paradigma kami yang berdampak pada sikap yang harus dilakukan.
Yang awalnya perfeksionis menjadi lebih adaptif dengan keadaan.
Yang tadinya cuek dan tertutup menjadi lebih peka dan terbuka.
Dan yang tadinya sama-sama keras menjadi lemah lembut.
Mengapa demikian ? Karena setelah hidup bersama, akan ada sebuah prioritas diantara prioritas - prioritas lainnya ...
Tetua yang sudah mendahului kami pernah bilang, jika suatu hari berumah tangga , jadilah penyeimbang di dalamnya.
Ketika ada yang keras, jadilah lembut.
Ketika ada yang menjadi api, jadilah air.
Itulah mengapa kami saling terhubung walaupun kami memiliki prinsip yang berbeda.
Itulah mengapa kami akan terus memiliki timbal balik walaupun terkadang memiliki argumen yang berbeda.
Sebab kami sudah memutuskan untuk menikah akibatnya kami harus bisa mendewasakan satu sama lain ..
Sebab kami sudah berkomitmen bersama akibatnya kami harus bisa menerima kekurangan satu sama lain ..
Sebab kami sudah menjalankan hidup berdua akibatnya kami harus saling menjaga antar dua keluarga ..
dan pada akhirnya
sebab kami sudah saling menyayangi akibatnya kami tidak butuh lagi penjelasan mengapa kami saling menyayangi .. ❤


Comments
Post a Comment