IBADAH PUASA DI TENGAH CORONA


Ibadah puasa merupakan salah satu perintah agama Islam yang mana kegiatannya melakukan ibadah dengan niat kepada Allah SWT, menahan diri untuk makan dan minum serta dari seluruh hal yang dapat membatalkan puasa. 

Suasana ibadah puasa yang saat ini sedang dijalankan oleh sebagian besar umat Islam mungkin berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yang tadinya selalu meriah dengan takbir keliling, yang tadinya obrolan grup sosial media penuh karena jadwal buka bersama, yang tadinya situasi masjid ramai dipenuhi umat muslim untuk menjalankan shalat tarawih berjamaah berubah karena adanya pandemi. Namun wabah bukan menjadi halangan untuk terus menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban tiap umat muslim. 

"Pandemi bukan menjadi alasan untuk tidak menjalankan ibadah sebagaimana mestinya. Kita hanya butuh penyesuaian agar ibadah tetap terjaga dan tetap siaga meminimalisir penyebaran corona" 

Ketika keadaan berubah karena adanya wabah, tidak selamanya menjadi buruk. Jika kita memandang keadaan dalam perspektif yang lebih positif, adanya pandemi tentu membawa perubahan baik dalam segala sisi kehidupan. Perubahan yang bisa dirasakan antara lain :

1. Ibadah menjadi fokus

Sejak merebaknya pandemi, gerakan social-physical distancing dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Hal ini diterapkan dalam bentuk work from home atau study from home yang mana secara otomatis waktu dan rutinitas yang kita lakukan terpusat di rumah dan tentunya juga ada banyak waktu luang tersedia. Di sela-sela waktu luang tersebut bisa digunakan untuk tetap fokus melakukan ibadah yang disunnahkan.

2. Menekan pengeluaran

Puasa identik dengan acara buka bersama. Sejak adanya social-physical distancing, kegiatan buka bersama di luar rumah menjadi kemungkinan kecil terjadi di samping beberapa fast food cafe/restaurant membatasi pengunjung untuk makan di tempat. Tentu hal ini bisa menekan pengeluaran yang sebelumnya kita sibuk untuk menyisihkan dana setiap minggunya untuk keperluan buka bersama. 

3. Lebih cermat dan kreatif mengolah makanan di rumah

Karena waktu luang dan dana cukup tersedia, kita jadi lebih cermat dan kreatif mengolah makanan sendiri untuk di rumah khususnya untuk disantap pada saat sahur dan berbuka. Dengan mengolah makanan sendiri di rumah, kita bisa memperkirakan kandungan gizi dan nutrisi yang sesuai untuk kebutuhan dan kesehatan tubuh. Berbeda dengan kondisi sebelumnya di mana untuk menu makanan yang biasa menemani untuk berbuka puasa, kita cenderung memilih maknan yang berbau modern dan instan tanpa melihat apakah itu baik dan sehat untuk dikonsumsi. Di tengah wabah corona, setidaknya tubuh harus tetap terjaga kesehatannya. 

4. Kelekatan keluarga semakin erat

Ketika momen puasa dimulai tepat pada kondisi sebelum pandemi, kita sibuk dengan aktivitas bekerja di luar rumah dan terkadang memilih untuk berbuka bersama di luar. Tentunya kontak dan komunikasi dengan anggota keluarga perlahan berkurang. Sejak adanya pembatasan sosial, komunikasi dan keakraban dengan keluarga semakin erat dirasakan ketika kita menghabiskan waktu luang di rumah. 

Momentum puasa di tengah wabah corona setidaknya mampu mengembalikan esensi dan makna ibadah sesunguhnya untuk tetap sehat secara lahir dan batin dengan memperhatikan dan tetap siaga meminimalisir penyebaran wabah. Walaupun intensitas tatap muka menjadi lebih sedikit dilakukan, paling tidak kita tetap bisa menjalin silaturahmi dengan relasi melalui akses teknologi di tengah pandemi. Ketika kita mampu berpikir positif tentang ibadah di tengah pandemi, besar kemungkinan lebih memberikan banyak manfaat baik secara emosional maupun di segala sisi kehidupan.


Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1441 Hijriah
bagi seluruh umat muslim dimana pun berada

Comments

Popular Posts