CANTIK TAK BERSYARAT


Baru-baru ini media dihebohkan dengan postingan seorang public figure Tara Basro yang begitu menuai kontroversial soal body positivy. Jika sama-sama kita lihat di perspektif yang berbeda, Tara Basro secara tidak langsung mengajak kita sebagai perempuan untuk lebih menerima dan mencintai diri kita apapun kondisinya. Hal itu juga berlaku untuk saya .

"SAYA AKAN CANTIK PADA WAKTUNYA"

Hal itulah yang terus saya ucapkan ketika rasa kurang percaya diri muncul dan biasanya setelah melihat seseorang yang menurut saya lebih cantik dan berproporsi ideal. 
Kemudian saya berpikir ulang 

"Buat apa saya membandingkan diri dengan orang lain ? Apakah cantik itu ada standarnya ?"

Mendengar kata 'CANTIK' pasti sudah terbayang standar-standar yang sudah terkonstruksi secara sosial seperti berkulit putih dan mulus, memiliki tinggi dan berberat badan ideal dan "gak malu-maluin untuk diajak jalan"
Apalagi standar-standar yang dibuat pada kriteria pelamar kerja khususnya untuk perempuan yang harus berpenampilan menarik seolah dengan cara halus mudah menyingkirkan perempuan yang belum beruntung terhadap penampilannya. 
Apakah definisi CANTIK akan terus mengalahkan ETIKA dan KECERDASAN ?

Saya, adalah salah satu pribadi yang memang mudah untuk merasa minder terhadap penampilan. Bagaimana tidak ? nyatanya, mata panda adalah teman terbaik saya saat ini. Mengerjakan beberapa aktivitas hingga larut malam membuat mata menjadi berkantung dan terlihat lelah. Ketika bersalaman, telapak tangan memang terasa kasar, kadang sering dihiasi dengan 'kapalan' karena lebih terbiasa memegang alat-alat rumah tangga.

Belum lagi sering menerima "jokes" soal tinggi badan. Jujur, saya akrab dipanggil "boncel, cebol, cetek, bantet" karena memang tinggi badan yang kurang mencapai 155 cm dan berat badan yang cenderung sedikit berlebih sekitar 48 - 50 kg. Tidak munafik, saya salah seorang yang sering makan berlebihan terutama ketika stress dan salah satu orang yang sering khilaf makan mie instan di jam-jam tengah malam .

Dan hal lain yang membuat saya tidak percaya diri adalah ketika melihat sebagian tubuh yang terdapat bekas luka akibat alergi langka yang saya idap sejauh ini. Daripada mengeluh, saya lebih mengakrabkan diri pada penyakit kambuhan yang saya derita karena memang akan hilang sendiri pada waktunya.

Menumbuhkan rasa percaya diri terhadap pribadi dirasa susah-susah gampang. Akan tetapi ketika saya mencoba untuk bersikap 'bodo amat' dan lebih melihat diri dari perspektif berbeda, tentunya ada rasa untuk selalu bersyukur diberikan tubuh dengan bentukan apa adanya. Dengan meyakini diri sendiri untuk menerima fisik kita dengan apa adanya, maka mental juga akan terbangun untuk terus memiliki pandangan saling menghargai terhadap apa yang kita miliki maupun yang orang lain miliki dan juga diikuti dengan merawat diri secara sederhana.
Jika kita menanamkan pola pikir dengan melihat diri dari perspektif lain secara positif, bukan hanya diri kita saja yang bisa menerima diri kita apa adanya, melainkan orang lain juga akan melakukan hal yang sama suatu saat nanti.

"Beauty is not just about how you walk, 
but also how the way you talk"
- Happy International Woman Day -

Comments

Popular Posts